dr. Yahmin: Rafael Butuh Uluran Tangan Segera

Mobil ambulans yang membawa Tim Darurat Kemiskinan (TDK) Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) keluar dari tol Pasar Rebo dan memutar balik menuju Condet. Sesampai di Rindam, Condet, Jakarta Timur, tim LKC-DD melakukan kontak dengan artis Fla Priscilla (@MyNameisFLa), yang ternyata sudah menunggu di sebuah gang di jalan Condet tersebut.

Tim LKC-DD segera menyusul Fla dan melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua bayi Rafael Athar yang menderita Multiple Anomaly Kongenital (mengalami banyak kelainan). Di sana Fla sudah bersama Harphelen (31), ayah si jabang bayi. Fla dan Harphelen langsung menuntun tim LKC-DD ke sebuah rumah kontrakan, masuk ke dalam gang tersebut.

Di rumah kontrakan satu kamar dengan ruang tamu teras terbuka itu, bayi Rafael terbaring di atas kasur. Di sampingnya setia menunggu Aat Maryati (26), sang ibu tercinta yang sesekali mengipasi Rafael agar tidak kepanasan.

Miris memang, menatap kondisi Rafael. Bibirnya sumbing, di jidatnya ada beberapa benjolan, jari kaki dan tangan tidak normal. Acap kali ia menangis, mungkin karena lapar. Ketika itu pula Aat menyuapi susu formula dengan menggunakan botol dot. Tapi proses menyusui itu tidak lancar karena bibir Rafael sumbing dengan gusi dan langit-langit terbelah. Hal itu membuat ia susah menyusu. Tak jarang ia tersedak karena air susu menyusup ke paru-paru dan beradu dengan pernapasannya.

Setiap kali Rafael tersedak, setiap itu pula mata Aat dan Harphelen berkaca-kaca. Mereka sedih menimbang nasib anaknya.

“Saya sempat tidak menerima kenyataan ini,” ucap pria asal Bangka Belitung yang menikahi Aat asal Garut, Nopember 2010 ini kepada tim LKC-DD.

Tapi setelah menerima nasihat dari banyak orang, akhirnya Ia dapat menerima kenyataan itu. Ia pun bangkit dan berusaha untuk mengobati anaknya itu. Harphelen pun sempat merahasiakan kondisi Rafael kepada isterinya selama dua hari. Sejak Rafael dicesar 5 Juli lalu di RS Duta Elsama, Kramat Jati, Jakarta Timur, ia dipisah kamar dengan ibunya.

Aat mengaku, hanya mendengar suara bayinya setelah dioperasi. Kemudian baru dapat melihat bayinya dua hari berikutnya. Selama dua hari itu, Harphelen menceritakan kondisi bayinya baik-baik saja. Rafael terlahir dengan berat 2.790 gram, panjang 51 cm.

Akan tetapi ketika mau pulang ke rumah, mau tak mau Aat harus menggendong bayinya. Di sanalah ia sedikit shock melihat kondisi Rafael. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Aat, kasih sayang Harphelen-lah yang mampu menenangkannya.

Dua hari mereka mengurusi Rafael di rumah, mereka melanjutkan pengobatan ke RSCM ia pun dirawat selama 10 hari. Dari diagnose dokter untuk perbaikan wajah, kaki dan tangan Rafael, dapat dilakukan kalau Rafael sudah memiliki berat badan minimal 5 kg. Sementara saat ini, berat badan Rafael tidak kurang dari 3 kg. Operasi pun direncanakan secara bertahap dengan estimasi biaya sekitar 400 juta.

Karena besarnya biaya inilah, Harphelen mengaku tak sanggup membiayai dengan gajinya yang Rp2 juta per bulan sebagai kurir dan marketing toko alat listrik di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Akhirnya ia mencoba mencari bantuan melalui teman-temanya.

Salahseorang teman mengunggah foto dan cerita Rafael lewat email, sampailah cerita ini kepada Silly @justsilly melalui akun jejaring sosial, twitter. Pesan ini pun di-mention ke @MyNameisFla yang diteruskan ke Dodi di Singapura. Dodi yang berteman dengan Direktur LKC Dompet Dhuafa dr. Yahmin Setiawan, MARS (@yahminlkc) membicarakan hal ini dan diminta menghubungi Fla.

Dokter Yahmin segera menindaklanjuti dengan melakukan rapat virtual dengan Manager Corsec Masitoh, AmG untuk merespon panggilan darurat kemiskinan ini.

Pukul 10.00 WIB, Senin (22/8/2011) TDK LKC-DD lansung meluncur ke Condet menuju tempat yang dijanjikan Fla. Dari analisa medis diketahui, penyebab cacatnya Rafael diperkirakan terinfeksi virus toksoplasma semasa dalam kandungan, dan Ia pun lahir prematur (masa kehamilan yang tidak cukup). Rafael dilahirkan umur 8 bulan dalam kandungan, dan terpaksa dicesar karena kekeringan. Ketuban
sudah pecah sejak 3 hari sebelum operasi cesar dilakukan.

Menurut Harphelen, kondisi Rafael saat lahir sudah membiru karena infeksi dari air ketuban. “Perawatan pasca lahir yang telaten membuat Rafael terselamatkan”, jelasnya.

Dan harapan Harphelen pun berlanjut, agar anaknya bisa tumbuh normal. Ia berharap bibir, kepala, kaki dan tangan anaknya dapat diobati. “Saya pengen melihat anak saya suatu saat tersenyum dengan bibir yang normal,” ungkapnya lirih. [fil]

This entry was posted in Blog, Tulisan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>